Monday, June 1, 2015

Candu surfing di Canggu

Jika ke Bali tentu saja saya selalu menyempatkan untuk selancar (surfing), selama ini saya hanya pernah coba surfing di 2 pantai, Seminyak atau Kuta yang memang cocok untuk pemula

Suatu waktu saya ingin mencoba pantai lain, saya sudah lama tertarik dengan pantai-pantai di Canggu, alhasil  saya pun ke sana tepatnya ke pantai Batu Bolong

Saya sempat tercenung dengan pantai ini, "waduh gimana nih ombaknya lebih gede dari pantai kuta" dan yang lebih membuat saya nggak pede adalah "wow yang maen kebanyakan udah jago", bukan hanya mereka bergerak miring ke kiri dan ke kanan tapi beberapa orang melakukan manuver loncat melawan arah ombak, lah di Kuta saja saya belum bisa bergerak ke kiri/kanan yang ada malah lurus-lurus aja

ybs bermanuver ria, skill ciamiknya membuat saya terintimidasi

Saya ragu tentu saja, tapi karena sudah sampai ke sini saya harus coba, esok paginya saya datang ke pantai sewa papan fun board ukuran kira-kira 6 ft, dengan hati dag dig dug saya langsung nyebur, SAYA PASTI BISA begitu saya berkata dalam hati.

Dan apa yang terjadi ?

EMAAAK, untuk paddling (mengayuh tangan) ke tengah ternyata butuh tenaga yang besar, tidak seperti di pantai kuta yang kita cukup jalan kaki untuk mendatangi ombak, jalan kakinya pun tidak terlalu lama karena ombak pecah relatif dekat dengan pantai, di Batu Bolong ini, ombak pecah di tengah, lautnya juga dalam sehingga tidak mungkin melakukan jalan kaki

Kalau dilihat dari pantai, ombak pecah itu rasanya dekat, tetapi setelah nyebur dan melakukan paddling "hayyah ini kapan sampenya", rasanya sia-sia melakukan paddling karena 2-3 kali melakukan ayuhan, arus datang sehingga mendorong balik

Saya lakukan kayuhan cepat-cepat, tapi ini membuat tangan saya cepat lelah dan pegal, namun setelah melakukan kayuhan cepat dengan kombinasi beberapa kali istirahat akhirnya saya sampai di point yang dituju yaitu di belakang ombak beberapa meter sebelum pecah, di sini saya kelelahan, napas memburu sulit konsentrasi, ada ombak datang bukannya diambil saya malah diam saja dan hanya melihat 4-5 bule melakukan manuver, momen ini saya manfaatkan untuk memulihkan tenaga sambil latihan keseimbangan duduk di atas papan, juga sambil mempelajari dan memperhatikan para bule, sehingga saya tahu kapan dan dimana posisi ngambil ombak itu berada

Setelah merasa tenaga mulai pulih, saya ambil ancang-ancang, ombak datang saya paddle sekuat tenaga supaya menyamai kecepatan ombak, well tak berhasil saya kurang cepat, ombak yang belum pecah itu pun lewat begitu saja di bawah papan surfing

Jika agan perhatikan, di sebelah kanan saya ada titik-titik kecil tempat para surfer menunggu ombak, sejauh itu lah saya harus melakukan paddle

Kesempatan kedua, ombak dapat tapi saya telat berdiri, yo wiss terpelanting dan keseret lumayan jauh, keseret di sini itu rasanya pengen nangis, bukan soal terpelantingnya tapi paddle balik ke poin awal itulah yang bikin hati getir, capeeek

Dan sayapun paddle kembali ke tengah, kesempatan ketiga, keempat dan seterusnya begitu terus berulang-ulang entah terpelanting telat berdiri, telat ambil ombak, terlalu cepat berdiri sehingga papan bukannya maju malah tenggelam atau sudah setengah berdiri eh tiba-tiba jatuh gak bisa menahan keseimbangan. Puncaknya kaki malah jadi keram

Keram ini menyebalkan, karena saya terpaksa mesti menenangkan diri dan diam, diam terlalu lama bisa bermasalah kalo ada di depan ombak, lama-lama entar keseret ke pantai, bisa gila kalo mesti paddle dari awal lagi, JAUHNYOOOO

Beberapa jam berlalu, tenaga udah mau abis rasanya, di beberapa titik kaki sudah lecet karena tergores koral, tapi saya belum juga bisa berdiri, sambil mikir-mikir tentang teori surfing, saya diam lama sekali di belakang ombak yang lum pecah itu, lalu muncul pikiran negatif yang menuntut udahan aja, pikiran negatif ini memberi wejangan "udah lah istirahat dulu, tidur dulu di penginapan, entar sore maen lagi, kalo udah capek begini makin susah deh berdirinya, percaya deh"

Tapi perasaan negatif itu saya tepis, saya coba ambil ombak sekali lagi tepat di samping para bule, saya pikir ini ombak sempurna sekali,  hampir semua orang mengambil pada momen yang sama, yapp mereka berdiri dan meluncur, sekitar 2 orang terpelanting satu diantaranya cewek bule jatuh beberapa meter di depan saya, saya sendiri seperti biasa gagal mengambil ombak karena paddle kurang cepat, saya pun melihat kembali ke belakang, wooa ada ombak datang lagi yang besarnya sama seperti sebelumnya, saya paddle sekencang mungkin kemudian HOREEE OMBAK KEAMBIL, ketika 1/2 berdiri saya melihat ke depan dan dalam hati teriak "ARGGGH SIALAAAN", yap si cewek yg tadi terpelanting ternyata belum bergerak ke pinggir, dalam sepersekian detik saya mesti memutuskan menjatuhkan diri atau menabrak cewek itu, kalo menjatuhkan diri, bakal lama lagi saya dapat ombaknya, ini momen jarang, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berdiri dan SREEEET, si cewek terserempet, tapi karena dorongan ombak yg kencang, serempet itu tidak begitu menyebabkan papan goyah, papan terus meluncur, saya merasa ini adalah ombak terkencang dan terlama yang pernah saya dapat, sangat bahagia rasanya, saya berdiri terus hampir menuju bibir pantai, YIHAAA, I DID IT

Semua lelah dan frustasi terbayar sudah, mimik muka saya sumringah, tapi kemudian saya sadar, "eh gilak tadi kan gwe nyereempet tuh cewek", saya pun balik lagi ke tengah dengan niatan mau minta maaf, eh tiba-tiba si cewek teriak gini aja "eh kamuu, kamu kalau main hati-hati ya, tadi tangan saya kena papan kamu, sakit", agak kaget karena dia bisa bahasa indonesia, langsung tak jawab "maaf maaf, saya belum bisa belok, lain kali saya hati-hati"

Saya surfing pagi itu sampai kira-kira 4 jam, dari 4 jam tersebut 2 kali saya bisa berdiri, walaupun hanya 2 kali, itu adalah momen yang paling menyenangkan dalam hidup saya, walaupun ada tumbal sempet bikin orang menderita hihi, maaf sekali lagi ya mba Aussie

No comments:

Post a Comment